Desember 21, 2011

Tutut Yang Nikmat Dan Menyehatkan

"Tutut" itu siapa sih? pertanyaan ini muncul ketika saya melintasi banyak gerobak tutut ini di pinggir jalan :



Ternyata tutut itu adalah bahasa sunda dari keong sawah (maklum saya bukan orang sunda). Di Jawa biasa orang  mengenalnya dengan nama krece atau nama ilmiahnya Bellamya javanica. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan siput, tapi tutut bentuknya lebih kecil dan tidak hidup di dua alam seperti siput.

Konon kabarnya hewan ini sangat baik dikonsumsi oleh penderita hepatitis / liver, mungkin karena adanya wabah penyakit itu di Jabar akhir tahun 2011, maka ramailah orang menjual makanan ini. Penasaran dengan manfaat tutut/krece ini saya coba googling di internet. Hasilnya menakjubkan, ternyata tutut kaya akan protein, tetapi rendah lemak  sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif makanan tinggi protein yang rendah lemak. Dalam seratus gram bagian yang dapat dimakan terdapat 16 g protein sehingga apabila kita mengkonsumsi 100 g tutut, tubuh kita sudah mendapat 32% protein dari kebutuhan sehari-hari. Protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh dan juga berperan dalam proses kekebalan tubuh.

Lemak dalam 100 g kraca terdapat dalam jumlah 1,4 g. Lemak yang terdapat dalam keong merupakan asam lemak essensial dalam bentuk asam linoleat dan asam linolenat. Sebuah studi di Brazil menunjukkan bahwa 75% persen lemak dalam keong merupakan asam lemak tidak jenuh yang dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Asam lemak tidak jenuh tersebut 57% tersusun dari asam lemak tak jenuh ganda dan sisanya merupakan asam lemak tak jenuh tunggal.Kandungan vitamin pada keong cukup tinggi dengan dominasi vitamin A, vitamin E, niacin dan folat. Wah klo mo diterusin bisa panjang ceritanya, mending liat di web aslinya aja deh di sini atau bisa liat tabel komposisi gizinya :

 Trus gimana rasanya, wah klo itusih jangan ditanya. Mantabs sekali rasanya, pedas-pedas manis dan tidak ada sedikitpun rasa amis. Buktinya gerobak tutut ini slalu dikerubungi oleh penikmat tutut. Yang unik lagi saat ramai suasananya menjadi beda, terdengar ramai bunyi seruputan yang heboh. Karena setiap orang sibuk menghisap daging tutut keluar dari cangkangnya. Sedot terus...sruuuppppp....





2 komentar:

  1. Hmmm.. kayaknya enak,, tp pengolahannya udh bener kan?, maklum, kan dari sawah, berlumpur dsb, klo gak bersih kan jd potensi bakteri lain.
    Btw, kapan2 traktir yo :D

    BalasHapus
  2. mudah2an sudah higienis, minimal kita bisa cek dari rasanya yg sdh tdk berasa lumpur dan tidak ada pasir2nya lg. trus jgn lupa baca doa sebelum makan

    BalasHapus